Senin, 06 Agustus 2012

Scared Insect Part1

Benda itu keluar dari dalam kotak anehnya, semua orang berteriak dan berhamburan keluar dari laboratorium  Profesor Andi. Aku tidak bisa berlari saking terlalu takutnya Aku untuk bergerak. Aku bersembunyi dibawah meja, Aku merasa ada sesuatu yang merayap dibahuku, rasanya gatal namun lembut sentuhannya, Aku takut untuk merabanya. Akhirnya Aku mencoba meraih bahuku.
    “Ahhhh….. !!” Aku berteriak sekeras mungkin. Benda aneh kecil itu ada dibahuku, dengan warnanya yang putih seputih salju dan mata merah yang mengisyaratkan ingin mengancam seperti ingin menakutiku.
    Benda itu tingginya tak lebih dari 3 inci, namun gigitannya yang pertama melukai Profesor Andi yang mengakibatkan Prof terbaring  mati menjadi tua renta. AKu tau, Aku belum di gigit tapi siapa tahu kapan benda aneh itu akan menyerangku.
    Tiba-tiba sebuah tangan menarik tanganku dan mengibaskan benda  aneh itu dari bahuku dengan jaketnya.




Bab 1
    Suasana siang itu begitu panas, membuat Aku malas datang kesekolah. Aku melihat diluar jendela, ternyata aneh, cuaca benar-benar panas namun hujan turun. Aku bingung kenapa bisa terjadi?
    “Junda… !” Teriak Velissa dari dalam mobil tuanya.
    “Iya.. Tunggu, Aku segera ambil tasku” Aku teriak dari balik jendela sambil mengunyah sandwich ku dan meninggalkan Ayahku sendirian dengan radio rusak kesayangannya.
    Aku tinggal bersama Ayahku, karena setahun yang lalu orangtuaku bercerai dan kami memutuskan untuk pindah di kota ini. Ibuku tinggal kembali bersama nenekku, dan Aku juga tidak yakin kalau kedua orangtuaku akan meninggalkan masa lajangnya dan menikahi oranglain. Aku hanya bisa berdoa supaya mereka bisa kembali seperti dulu. Seminggu sekali Ibuku menelfon menanyakan keadaan ku dan Ayah, meski kini Ibuku pun sudah mempunyai kekasih baru, Bily, namun belum juga mereka menikah.
    Dikota baru ini, Aku terbilang anak baru karena Aku menduduki kelas dua tanpa harus melewati kelas satu. Selama kurang lebih satu tahun ini, Aku lumayan senang berada disekolah, bersama sahabatku Velissa, beberapa teman lain yang cukup dekat denganku, meski dalam sekolah selalu ada yang dinamakan rival , Clara, teman atau musuh Aku boleh menyebutnya ? Dia tak henti-hentinya mengganggu Aku karena Aku anak baru. Dia takut Aku merebut pacarnya, Roby, Bintang Basket sekolah yang cukup dibilang keren, mungkin Clara tahu Aku mengagumi kekasihnya.
    “Bagaimana tugas Prof Andi ? Sudah Kau kerjakan ?” Ujar Velissa menghentikan lamunanku sejenak.
    “Aku malas mengerjakannya, tugas orang itu kan selalu aneh?!”
    Prof Andi, Guru Biologi di sekolahku, Aku belum yakin Dia manusia atau bukan. Dia selalu membawa kodok kemanapun Dia berada, dengan kacamata nya yang bulat dan tebal, membuat Dia benar benar bagai seorang maniak atau gay ?.
    Dikelas Aku duduk paling belakang sebangku dengan Velissa. Aku tidak sekelas dengan Clara namun beruntungnya Aku bias sekelas dengan Roby. Dikelasku ada satu anak yang sangat pendiam, belum pernah Aku mendengar suaranya, bahkan anak seisi kelaspun belum pernah berbicara dengannya. Namanya Ben, menurutku Dia tidak kalah dengan Roby, hanya saja Dia tidak populer. Ben selalu duduk sendiri dikelas, tidak punya teman dan tiap hari selalu mendengarkan lagu lewat earphone nya.
    Ketika Prof.Andi datang, semua murid tidak ada yang menghiraukan sedikitpun. Prof.Andi menulis sebuah kalimat dipapan kosong di depan kelas.
    “CARILAH HEWAN VERBTEBRATA, MASING-MASING KELOMPOK 3 ORANG, MINGGU DEPAN DIKUMPULKAN”
    Seketika, Prof.Andi meninggalkan kelas dengan perasaan kesal. Yah.. Terlihat dari raut wajahnya. Kemudian kelas begitu ramai, ku mencari Roby, apakah Dia sudah berkelompok dengan yang lain?, sepertinya sudah, Dia sedang bergurau tentang serangga dengan Mike, dan Dim. Ku toleh Velissa, Dia sepertinya sedang merayu Fara, gadis paling pintar dikelas. Velissa berkelompok denganku, dan Dia berusaha mengajak Fara bergabung. Tapi Aku yakin beribu ribu persen kalau Fara tak akan bergabung dengan kami.
    Hingga pelajaran selesai Velissa tetap membujuk Fara, namun benar-benar gagal. Velissa marah padaku karena tak mau membantu membujuk Fara bergabung. Tapi Aku sadar, meskipun Aku ikut membujuk Fara, Fara juga tak akan meng iyakan jawaban kami.
    “Kau sih ?! Kenapa tidak membantuku? Lalu sekarang kita kekurangan kelompok.”Celoteh Velissa dengan menyeruput es coklat kesukaannya dikantin.
    “Bagaimana dengan Ben?.”Tiba-tiba Aku kepikiran dengan Dia, karena Aku yakin Ben tidak punya kelompok dengan siapa-siapa.
    “Yang benar saja? Aku mengajak Fara bergabung itu untuk membuat kita tidak usah mengerjakannya. Fara kan pintar, Dia tak akan menerima bantuan kita untuk membantu mengerjakannya. Sedang dengan Ben ? Aku berbicara dengannya saja tidak pernah. Bisa-bisa kita yang jadi mengerjakannya.”Ujar Velissa sembari meghabiskan minumannya.
    “Ini kan Cuma mencari hewan, kita juga bisa mencari sendiri. Kalau Fara bergabung, Dia akan memilih mengerjakan PR dirumah, daripada mencari hewan dengan kita.” Kataku sembari mengaduk-aduk makananku di piring.
    “Benar juga, nanti kau ajak Dia ya? Sebagai ganti rugi tidak mengajak Fara.” Kata Velissa sambil tersenyum.
    Bagaimana Aku mengajaknya, apa Aku masuk buku rekor dunia bisa mengajaknya bicara?. Apa Aku bisa menjadi  orang pertama yang mendengarkan suaranya?. Aku makin penasaran. Belum semenit Aku menghentikan lamunanku, Ben datang dengan santainya sambil mengenakan earphone di telinganya. Apa ini saatnya Aku ajak Dia bergabung dalam kelompok?.
    Aku meninggalkan makananku dimeja dan menghampiri Ben yang duduk sendirian di pojok kantin. Dia sepertinya tidak menyadari kedatanganku apa pura-pura tidak tahu?.
    “Hai Ben?” Sapaku pelan.
    “…..” Tak ada jawaban darinya. DIa mendengarku atau tidak?.
    “Heeeeeiiii Been !” Teriakku padanya.
    “……” Hening. Aku jadi takut, apa Dia tuli? Atau benci padaku.
    “Aku menganggumu?. Baiklah, Aku pergi.” Ujarku akan melangkah pergi.
    “Mau apa ?” Ujarnya pelan. Membuatku diam membisu saat tahu Dia menjawab pertanyaanku.
Jadi dari tadi Dia mendengarkanku?.
    “Ben…   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar